Merawat Citra Santri Di Berbagai Kalangan
Ditulis oleh : Ustadzah Syfa Fauziah (Guru SDIT Al Imam Kuningan)
Menelaah perkembangan zaman yang semakin menggelapkan, tentu perlu adanya penerang yang dijunjung agar tidak terlena. Sudah menjadi hal biasa melihat banyak fenomena yang terjadi hingga pengaruh dunia maya yang semakin mengkhawatirkan terutama bagi dunia pendidikan. Tak hanya itu, kerap kali pengaruh buruk yang mudah diperoleh dan diakses masyarakat sudah menjalar pada anak-anak bahkan balita. Tentu beberapa kemungkinan tersebut bisa diminimalisir salah satunya dengan memupuk nilai-nilai kegamaan sejak dini.
Dalam hal ini dunia pendidikan adalah salah satu jawaban yang mampu bersaing dengan tantangan zaman. Di Indonesia lembaga pendidikan yang berbasis keagamaan khususnya agama islam, disebut dengan Pesantren. Pesantren memiliki istilah tersendiri kepada muridnya dengan sebutan ‘santri’. Seorang santri ini dikenal mempraktekakan ikraaman wa ihtiraaman lil ustaadz, yakni memuliakan dan menghormati guru. Santri juga identik dengan akan hausnya ilmu sehingga sangat menghormati orang-orang yang memiliki ilmu. Sehingga akhlak dan perilaku santri menjadi sorotan masyarakat.
KH. Ahmad Mustofa Bisri, atau lebih dikenal Gus Mus seorang tokoh agama Islam mengatakan bahwa santri bukan yang mondok (berada di Pesantren) saja, tapi siapapun yang berakhlak seperti santri, dialah santri. Merujuk pada kutipan Gus Mus, memang betul adanya gelar ‘santri’ bukan hanya untuk orang yang berada pada lingkungan pesantren. Dalam definisi pendeknya, santri adalah orang yang belajar agama dan mendengar petuah dari kiai, ulama, ustadz dalam media apapun.
Clifford Geertz, dalam bukunya The Religion of Java, menuliskan, “Ada dua makna dalam istilah santri. Pertama, santri adalah murid-murid pesantren. Kedua, santri memiliki arti yang cukup luas yakni seluruh kaum muslimin yang ta’at baik tradisional ataupun modernis. Melihat dari tulisan Geertz, jelas seluruh umat muslim di Indonesia adalah santri. Maka dari itu, sejak tahun 2015 pemerintah menetapkan dengan tegas bahwa setiap tanggal 22 Oktober merupakan Hari Santri Nasional yang sejatinya seluruh kalangan umat muslim di Indonesia berhak memperingatinya.
Oleh karena itu, sistem kelola Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-Imam hadir sebagai jembatan serta ruang agar anak-anak muslim mampu mengahadapi tantangan zaman dengan memiliki akhlak qur’ani dan keluasan ilmu. Dengan menerapkan nilai-nilai dalam Al-Quran dan Hadist, sebagai upaya dapat mencetak generasi yang mumpuni memajukan peradaban.